Dua Puluh Empat Bingkai Per Detik

Oh ya, dua diantara kami sudah resmi tidak menjadi bagian dari mahasiswa lagi. Mereka resmi bergabung bersama Kundit, mereka baru saja menyelesaikan dengan ekstra keras,

“ Selamat dan semangat untuk bertahan hidup di fase baru teman.”

Sekarang giliranku, menyelesaikan apa yang Aku perbuat atau menyerah untuk memulai Apa yang selalu memanggilku di luar sana. Keputusan ini begitu anehnya kurasa, yang selalu aku dasari adalah,

“Setiap manusia itu jalannya berbeda, tak pernah sama keseluruhannya.” 

Bagiku, memulai dan meninggalkan itu perkara biasa, yang penting bisa menyelamatkan. Karena lebih mulia pepohonan di kota, dari pada angin di pegunungan. Dan diluar konteks kematian, waktu tentu tak bisa kembali mengajak kita memulai yang sudah-sudah, hanya saja waktu memberikan kita pelajaran dari yang berlalu, bahwa hidup tak hanya sampai esok, bahkan bermilyaran tahun mendatang, mustahil jika rasanya hidupmu tak berubah, sebab waktu sering memaksa setiap kita berubah.

Ada juga sebagian dari manusia yang tidak memahami itu, maksudku, menyeluruh, mereka hanya berpikir berjuang dengan serius dan berdoa, akan lebih baik dari pada kau tidur di siang hari. Memang benar motivasi itu berlakunya, logikanya memang begitu, hidup untuk mereka yang selalu berjuang.

“Ah..ya, bagaimana tentang seorang anak yang sedang berusaha untuk kesuksesannya, lalu di tengah proses itu dia mati atau apa namanya, jadi mimpinya pun terkubur ?”

 

Prosa ini belum berakhir tentunya, proses meditasiku berjalan lancar, semua baik-baik saja, lalu Aku kembali bersiap menyelesaikannya semua dengan tuntas, sebenarnya tak ada kata menyelesaikan, ini masih berlangsung derasnya..

Sore Sabtu

Kemah ini kosong, kami semua lulus tanpa tersisa satu orang pun disini, dan pada hari itu saya menulis surat untukmu, menulis kabar bahwa saya akan segera pulang untuk menikahimu, disana hanya ada satu lembar kertas yang tersisa, itupun tidak begitu utuh.

Semuanya cepat berubah, mereka yang lain ada yang saling membunuh, saling menodongkan pistol ke kepala teman, ada juga yang saling ejek dan saling puji dibelakang sana, dan ada satu dari mereka sedang mengamati saya dari cermin, dia tersenyum baik, begitu saya melihatnya dari balik cermin, saya melihat dia sedang mengisi peluru untuk ditembakan ntah kepada siapa, saya memperhatikan setiap geriknya, lalu dia mengarahkan ujung pistolnya ke arah saya,lalu dia tergeletak oleh tembakan dari belakang, sekejap dia mati, dan yang menembaknya pun tak berselang lama juga tertembak oleh yang lainnya, disini kejam, tak hanya itu, perubahan pun cukup cepat, baru saja sebulan yang lalu kami semua menghadiri hari pertama di kemah ini dengan polos dan tak tahu apa-apa.

Saya menyelesaikan suratnya,

” dan apapun yang terjadi, kau tak boleh kembali menatap kebelakang, dan juga kau tak boleh melihat kedepan, dibelakang, bisa saja hidupmu baik, bisa saja hidupmu buruk, dan di depan, kau bisa saja berharap keindahan dan ketentraman, bisa juga kau takut dengan keburukan yang akan menimpamu, yang perlu kau fokuskan adalah hari ini, saat segalanya sedang berjalan dihadapanmu, saat semua yang terjadi kau perani “

Setelah itu Saya pun ikut mati oleh tembakan entah dari siapa … 

 

-Toms-

Batuk

Begini batuknya, begitu bunyinya lantang, setiap kali dia ingin setiap itu dadaku mulai rontok dengan dentungan kuat, setiap ia kembali terkadang mereka bersamaan dengan darah, ntah itu dari mana, ooh ya, mungkin organ aku atau apa itu ..
Begini caranya sekarang, memang benar, bukan dia pelakunya ” sibatuk” tetapi aku menciptakannya jauh sebelum diriku mengenal penyakit ini -___-