Sore Sabtu

Kemah ini kosong, kami semua lulus tanpa tersisa satu orang pun disini, dan pada hari itu saya menulis surat untukmu, menulis kabar bahwa saya akan segera pulang untuk menikahimu, disana hanya ada satu lembar kertas yang tersisa, itupun tidak begitu utuh.

Semuanya cepat berubah, mereka yang lain ada yang saling membunuh, saling menodongkan pistol ke kepala teman, ada juga yang saling ejek dan saling puji dibelakang sana, dan ada satu dari mereka sedang mengamati saya dari cermin, dia tersenyum baik, begitu saya melihatnya dari balik cermin, saya melihat dia sedang mengisi peluru untuk ditembakan ntah kepada siapa, saya memperhatikan setiap geriknya, lalu dia mengarahkan ujung pistolnya ke arah saya,lalu dia tergeletak oleh tembakan dari belakang, sekejap dia mati, dan yang menembaknya pun tak berselang lama juga tertembak oleh yang lainnya, disini kejam, tak hanya itu, perubahan pun cukup cepat, baru saja sebulan yang lalu kami semua menghadiri hari pertama di kemah ini dengan polos dan tak tahu apa-apa.

Saya menyelesaikan suratnya,

” dan apapun yang terjadi, kau tak boleh kembali menatap kebelakang, dan juga kau tak boleh melihat kedepan, dibelakang, bisa saja hidupmu baik, bisa saja hidupmu buruk, dan di depan, kau bisa saja berharap keindahan dan ketentraman, bisa juga kau takut dengan keburukan yang akan menimpamu, yang perlu kau fokuskan adalah hari ini, saat segalanya sedang berjalan dihadapanmu, saat semua yang terjadi kau perani “

Setelah itu Saya pun ikut mati oleh tembakan entah dari siapa … 

 

-Toms-

Batuk

Begini batuknya, begitu bunyinya lantang, setiap kali dia ingin setiap itu dadaku mulai rontok dengan dentungan kuat, setiap ia kembali terkadang mereka bersamaan dengan darah, ntah itu dari mana, ooh ya, mungkin organ aku atau apa itu ..
Begini caranya sekarang, memang benar, bukan dia pelakunya ” sibatuk” tetapi aku menciptakannya jauh sebelum diriku mengenal penyakit ini -___-